Workshop di RT 13/RW 02 Jatinegara, Cakung
Workshop dengan tema ‘Rumah Sehat’ di RT 13/RW 02 Kelurahan Jatinegara, Cakung ini diadakan pada hari Minggu, 15 November 2009. Workshop ini merupakan rangkaian dari workshop ‘Rumah Sehat’ yang ditujukan untuk anak-anak yang tinggal di daerah permukiman kurang beruntung, sebagai bagian dari Program Hibah Kompetisi Institusi (PHK-I) Universitas Indonesia 2009. Tujuan workshop ‘Rumah Sehat’ ini adalah untuk mengajak anak bersama-sama mengevaluasi kondisi permukimannya yang secara umum belum memenuhi syarat sebagai tempat tinggal yang baik, serta memikirkan kemungkinan perbaikan kondisi tersebut. Workshop ini melibatkan para kader PKK setempat sehingga mereka juga diajak untuk bersama-sama mendiskusikan masalah permukiman yang ada dan gagasan perbaikannya. Meskipun dalam workshop ini gagasan anak-anak tentang tempat tinggal yang baik belum dapat diwujudkan secara nyata pada lingkungan fisik yang ada, namun setidaknya workshop ini dapat memberikan gambaran pada anak tentang sebuah permukiman yang baik, sehingga anak dapat menyimpan gagasan tersebut dalam dirinya dan memotivasi dirinya agar kelak mampu melakukan perubahan yang bermakna.
Workshop di SDN Pondok Cina 5 Depok
Kegiatan workshop di SDN Pondok Cina 5 Depok diselenggarakan pada tanggal 18 Juni 2008. Tema ‘Dream Island’ menjadi materi dalam kegiatan workshop kali ini. Para siswa diajak untuk merencanakan sebuah pulau yang dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia secara bebas dan kreatif. Melalui kegiatan ini siswa belajar tentang bagaimana elemen-elemen di lingkungan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta keterkaitan antara elemen satu dengan yang lain, dan keterkaitan antara kebutuhan yang satu dengan yang lain. Sebagian besar fasilitator adalah wajah-wajah baru yang telah bergabung, yang sebagian besar adalah mahasiswa arsitektur UI angkatan 2008. Mudah-mudahan kegiatan upaya kita ini dapat terus berlanjut dan menyebar luas ke sekolah-sekolah yang lain, dalam rangka mengembangkan program pendidikan lingkungan yang kreatif dan menyenangkan.
Workshop di SDN Guntur 03 Jakarta
Education Care Unit kembali mengajak para siswa untuk kreatif merancang lingkungan sambil memperoleh pengetahuan tentang lingkungan yang baik. Dalam workshop di SDN Guntur 03 Jakarta, Sabtu 13 Desember 2008, tema yang diangkat adalah tentang ‘Rumah Sehat’. Para siswa diajak melakukan refleksi terhadap keadaan lingkungan tempat tinggalnya, mendiskusikannya dalam kelompok hingga memperoleh kesimpulan tentang syarat-syarat sebuah lingkungan yang baik. Selanjutnya, seperti pada workshop ECU yang lain, siswa kemudian diajak untuk bersama-sama merancang sebuah lingkungan perumahan yang baik sesuai syarat-syarat yang telah mereka simpulkan. Namun mereka tetap secara bebas dan kreatif dapat memiliki gagasan apapun tentang lingkungan yang mereka buat.
Holcim Awards 2008
Education Care Unit was just awarded Holcim Awards Next Generation Encouragement Prize 2008.
Congratulations for all our volunteers who have contributed their time and efforts for Education Care Unit.
Jury’s comments:
“This is literally a next generation project because it addresses children as the future stakeholders of our built environment. The creative and joyful efforts of the children in their classroom focus on urban issues that directly shape the conditions of their specifi c neighborhood and daily life. By developing their own “dream city” – a self-suffi cient urban settlement – in small groups, the children easily learn to understand the basics and principles of sustainable design and construction. Furthermore, they are introduced to systematic, multidisciplinary thinking and life cycle considerations. They also become strongly involved in team work and collective decision taking. Through all these valuable experiences the next generation acquires the sensitivity and the awareness to become responsible members of our future society. Although this initiative isn’t unique, the project deserves to be broadly acknowledged and strongly encouraged”.
Read about the project
We hope that this will be a new beginning for further efforts in teaching about sustainability for the next generation.
Merangsang Kreativitas dengan Arsitektur
Kompas, Selasa 23 Desember 2008

Suasana kelas IV A SD Negeri 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, pagi lalu gaduh. Nevine Rafa Kusuma, mahasiswi semester VII Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, itu harus berjuang keras mengatasi riuhnya kelas.
Dengan suara yang serak, Nevine berupaya mencuri perhatian lima siswa yang berada dalam kelompoknya agar mau mendiskusikan topik hari itu, yaitu soal ”rumah impian”. Para siswa itu berumur rata-rata 9-10 tahun. Mereka adalah Aisyah, Dhesta Alfianty, Arfiansyah, Andhika, dan Emira Afieta Fitriadi.
Semuanya ada lima kelompok dalam kelas dengan 25 murid tersebut yang dibentuk oleh Didi Pramujadi, aktivis Education Care Unit (ECU). Setiap kelompok yang difasilitasi oleh para mahasiswa relawan tersebut akan berdiskusi tentang rumah impian dan mewujudkan dalam bangunan arsitektur sederhana.
Setiap kelompok berkumpul di meja belajar yang disusun bersama. Tim ECU sudah menyiapkan berbagai bahan yang diperlukan seperti kertas karton tebal, berbagai karton bekas pembungkus, kertas koran, kertas krep, dan lem. Bahan-bahan itu nantinya akan dikreasi oleh setiap kelompok untuk membuat rumah impian tersebut.
Namun, sebelum mewujudkan rumah impian tersebut, para siswa diajak berdiskusi terlebih dahulu. Itu yang ternyata tidak mudah. Di kelompok yang difasilitasi Nevine, misalnya, ada siswa yang aktif mendiskusikan setiap pertanyaan yang dilontarkan Nevine, yaitu Emira Afieta Fitriadi. Ada yang hanya mengiyakan atau mengangguk-angguk, seperti Aisyah dan Dhesta. Namun, ada yang apatis dan diam saja, yaitu Andhika dan Arfiansyah.
Setelah menanyakan nama dan alamat rumah masing-masing, Nevine memulai diskusi, ”Di rumah banyak sampah enggak?”
”Ada banyak. Tong sampah jarang lagi,” tanya Emira.
”Siapa yang tahu rumah yang udaranya segar kayak apa?” tanya Nevine.
”Enggak ada sampah,” jawab Aisyah.
”Ada yang terasa sumpek enggak ruangannya,” tanya Nevine lagi.
”Ada. Tapi pakai AC,” kata Emira.
”Ada yang tahu enggak kalau enggak pakai AC rumah jadi sumpek?” ujar Nevine. Tidak ada yang bisa menjawab, lalu ia bertanya lagi,” Di rumah ada jendela enggak?” ”Kenapa kalau ada jendela udara tidak pengap. Ada yang tahu?” kata Nevine yang terus berusaha menggali.
”Enggak tahu,” ujar Dhesta.
”Supaya rumah tidak pengap diapain?” kata Nevine.
”Pakai AC,” ujar Emira yang tampak paling aktif di diskusi. ”Pakai jendela. Pakai ventilasi,” kata Emira menambahkan.
”Ada yang tahu ventilasi yang mana? Ada yang tahu bedanya dengan jendela enggak? Kata Nevine. Lama tidak ada yang menjawab. Lalu, Nevine menunjuk ke ruangan kelas mana yang disebut ventilasi dan mana yang disebut jendela.
Hampir setengah jam mereka berdiskusi. Mereka mendiskusikan sejumlah isu besar menyangkut rumah impian, yaitu udara segar, cahaya, kebersihan dalam rumah dan sanitasi, serta lingkungan luar. Nevine terus berupaya agar masing-masing anggota kelompok secara aktif mengungkapkan pemikiran-pemikirannya secara kritis sehingga muncul pikiran-pikiran kreatif untuk mewujudkan rumah impian.
Hasil diskusi tersebut dicatat oleh masing-masing anggota kelompok. Jawaban dibagi dalam dua kategori, yakni kondisi rumah yang nyaman dan rumah yang tidak nyaman. Ruang bagian mana yang nyaman dan tidak nyaman harus disebutkan. Mereka juga diminta menuliskan alasan mengapa rumah masing-masing nyaman dan tidak nyaman.
Masalah-masalah itu dikelompokkan. Proses itu disebut pemetaan pikiran. Misalnya, dalam masalah ”rumah yang pengap” dikelompokkan disebabkan oleh ”AC yang padam”. Untuk mengatasinya, seperti usulan para anggota kelompok, ada dua, yaitu ”AC jangan dipadamkan” atau ”dibuat ventilasi”. Dalam masalah ”ruangan gelap” dikelompokkan disebabkan oleh ”tidak ada cahaya” karena ”jendela tidak dibuka”.
Setelah semua anggota memahami masalah-masalah yang terkait dengan rumah impian dan solusi-solusinya, siswa diajak membuat maket sebuah kompleks perumahan sesuai hasil diskusi.
Berbeda dengan proses diskusi dan penggalian pemikiran yang sulit dilakukan, proses pembuatan maket ini disambut antusias para siswa. Kegaduhan yang muncul dalam proses diskusi berubah menjadi keasyikan mewujudkan rumah impian. Mereka tenggelam dalam aktivitas menggunting, mengelem, dan menyusun karton dan kertas-kertas tersebut.
Dengan bahan-bahan sederhana, para siswa menyusun rumah impian masing-masing di atas karton tebal dengan ukuran 40 x 60 sentimeter. Rumah- rumah itu terbuat dari kotak-kotak karton seukuran 5 x 10 cm dengan tinggi 5 cm. Siswa menggambar jendela-jendela dengan pulpen. Pohon-pohon dibuat dari kertas krep warna hijau atau daun-daun yang diambil dari halaman sekolah.
Dalam maket kelompok yang difasilitasi Nevine itu, misalnya, mereka membuat kompleks Perumahan Tangkuban Perahu. Di situ terdapat enam rumah, satu lapangan bola, kolam ikan, dan pepohonan.
Proses berikutnya tidak kalah penting yaitu membuat refleksi dari maket yang dibuat. Setelah mengemukakan hasil refleksinya, mereka diminta menuliskannya di catatan. Setiap siswa harus menjawab pertanyaan refleksi, yakni, ”Apa yang sudah dikerjakan?”, ”Apa yang dipelajari?”, ”Apa keinginan untuk rumahmu?”, dan ”Apakah menyenangkan?”.
Menjawab pertanyaan pertama, Dhesta (10), misalnya, menulis, ”membuat kompleks yang bersih, wangi, dan banyak pepohonan”. Untuk pertanyaan kedua ia menulis, ”membuat rumah yang sehat dan sejuk”. Menjawab pertanyaan ketiga, Dhesta menulis, ”rumah yang sehat, bersih, dan sejuk”. Untuk pertanyaan keempat, Dhesta menulis, ”Ya, karena jadi tahu lingkungan yang bersih untuk bermain dan belajar”.
Lima maket hasil karya kelas IV A tersebut akhirnya disusun memanjang di teras kelas. Mereka pun berfoto bersama. Selesailah semua proses yang memakan waktu dua jam tersebut.
Pemahaman pemikiran kreatif dan kritis itu yang diharapkan oleh ECU. Pada program- program sebelumnya, ECU melombakan hasil karya mereka itu. ”Mereka membuat maket sebagus mungkin. Namun, jadinya malah kehilangan makna dan hanya terkesan membuat prakarya,” tutur Yandi Andri Yatmo. Model atau maket arsitektur itu bukan tujuan, tetapi hanya menjadi alat untuk merangsang kreativitas anak-anak terhadap pengelolaan lingkungan di sekitarnya.
Kepala SDN 03 Guntur Tamsa menyambut positif kegiatan tersebut karena sejak awal siswa sudah diajari konsep-konsep dasar tentang pengelolaan lingkungan yang baik. ”Konsep-konsep ini akan dibawa mereka seumur hidup,” ujarnya.
Esensi dari proses pembelajaran alternatif ini adalah penanaman pemahaman sejak dini tentang pengelolaan lingkungan. Pikiran yang sudah tertanam sejak dini diharapkan berlanjut ketika mereka dewasa. Dengan demikian, pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan dapat terwujud. (BUR)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/23/02110295/merangsang.kreativitas.dengan.arsitektur
Merancang Pola Pikir Anak-anak
Kompas, 23 Desember 2008
Karya seorang arsitek sering diidentikkan dengan kegiatan merancang sebuah fisik bangunan. Arsitektur adalah tujuan. Namun, yang dikerjakan sekelompok arsitek muda Indonesia yang tergabung dalam Education Care Unit ini bukan merancang fisik bangunan. Mereka merancang pola pikir anak-anak. Arsitektur hanya menjadi alat.
Karena keunikan itu, dua arsitek muda yang mewakili Education Care Unit (ECU), Didi Pramujadi (32) dan Myrza Yuliansyah (27), memenangi Holcim Awards for Sustainable Construction wilayah Asia Pasifik untuk kategori Next Generation Encouragement Prize 2008.
Karya mereka yang berjudul Constructing Sustainability Awareness for Children (Mengonstruksi Kepedulian Berkelanjutan untuk Anak-anak) tersebut mengalahkan ribuan judul karya yang diusulkan ke penyelenggara Holcim Awards, yakni Holcim Foundation. Holcim adalah produsen semen dan beton setengah jadi terkemuka di dunia.
Piala dan hadiah uang diserahkan kepada kedua arsitek tersebut dalam acara Anugerah Holcim Awards di Habitat Center New Delhi, India, Kamis, 27 November 2008.
Piala disampaikan oleh salah satu anggota dewan juri, Hansjurg Leibundgut, dari Swiss, kepada Didi dan Myrza. Para juri yang berjumlah delapan orang itu diketuai oleh Ashok Lall, arsitek dari India. Salah satu juri berasal dari Indonesia, yakni Prof Dr Gunawan Tjahjono dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Karya mereka ini unik karena bukan berbentuk bangunan arsitektur seperti juara-juara lainnya. ECU mengembangkan semacam metode pembelajaran menggunakan model arsitektur.
Menurut penilaian juri, ECU dinilai membuat anak-anak menjadi pemangku kepentingan masa depan untuk pengembangan lingkungan berkelanjutan. Dengan menciptakan kreativitas di kelas melalui sebuah model ”kota impian”, siswa belajar bagaimana mengelola lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
”Dengan model lingkungan, mereka mengubah cara berpikir, sikap, sampai nilai-nilai anak- anak terhadap lingkungan. Kalau dari kecil sudah dapat ditanamkan, bisa berkelanjutan sampai mereka dewasa,” ujar Gunawan Tjahjono mengomentari kemenangan tersebut.
Motor
ECU ini dimotori oleh dosen di Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, yaitu Yandi Andri Yatmo PhD (37) dan Paramita Atmodiwirjo PhD (36). Ide ini muncul ketika mereka pulang dari pendidikan di Inggris tahun 2006 dan melihat pendidikan di Indonesia yang memprihatinkan.
Anak-anak sekolah umumnya tidak kreatif karena sistem pembelajaran yang cenderung bersifat dari atas ke bawah, yaitu sangat bergantung pada otoritas guru.
”Anak-anak di sini umumnya takut salah. Padahal, untuk mengembangkan kreativitas, anak-anak harus diberi kebebasan mengemukakan pendapat dan tidak takut salah,” ujar Yandi.
Pengalaman masa kecil Yandi di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, juga memengaruhinya. Saat itu ia mudah sekali berinteraksi dengan alam sekitar yang masih hijau. Hal yang susah didapatkan oleh anak-anak sekolah di kota-kota besar. ”Seharusnya sekolah dan lingkungan sekitar bisa menjadi tempat belajar,” ujar Yandi.
Didi menambahkan, pendidikan di sekolah dasar sering tidak tuntas menyelesaikan masalah sehari-hari. ”Sebagai contoh, kalau anak SD ditanya bolehkah buang sampah ke sungai? Pasti di jawab tidak karena menyebabkan banjir. Namun, kalau ditanya lebih kritis, bagaimana sampah menyebabkan banjir, mereka tidak bisa menjawab,” katanya.
Jadi, metode pembelajaran yang dikembangkan ECU adalah membuat paradigma baru pendidikan dengan mengembangkan kreativitas, kekritisan, dan berlanjut. Dengan latar belakang keahlian di bidang arsitektur, Yandi dan kawan-kawan lainnya sejak tahun 2006 mulai memikirkan metode pembelajaran menggunakan model arsitektur. Namun, model arsitektur itu hanya alat bantu, yang lebih penting adalah diskusi proses pembuatannya dan merefleksikan hasil pembuatan model tersebut. Beberapa bentuk yang dibuat itu adalah model kota impian, lingkungan perkotaan, lingkungan sekolah, dan pulau impian.
”Dengan demikian, arsitektur tidak menjadi menara gading, tetapi bisa membumi,” kata Yandi.
Metode pendidikan berbasis problem sehari-hari itu selanjutnya diujicobakan di sejumlah sekolah dasar di Depok dan Jakarta. Sekolah-sekolah itu di antaranya SDN Mekarjaya 10 Depok, SDN Pondok Cina 1-4 Depok, SDN Tanjung Barat 1 Jakarta, SDN Srengseng Sawah 01 Pagi Jakarta, SMP Al-Azhar Pejaten Jakarta, dan SDN 03 Guntur Jakarta (lihat: Merangsang Kreativitas dengan Arsitektur).
Di sekolah-sekolah itu, mereka membuat lokakarya kreativitas dan lingkungan. Dengan program ini, para siswa diharapkan dapat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan melalui kreativitas mereka. ECU percaya pendidikan seharusnya mencakup kemampuan berkolaborasi, mengekspresikan kreativitas, kritis, dan mampu berpikir reflektif. Pendidikan untuk keberkelanjutan ini bisa dikembangkan untuk menciptakan generasi mendatang dengan menciptakan sensitivitas dan kepedulian terhadap lingkungan.
”Anak-anak memang paling efektif untuk menanamkan konsep-konsep dasar pengelolaan lingkungan ini. Jika konsep ini sudah melekat di pikiran anak-anak, ketika dewasa prosesnya akan lebih mudah lagi.” kata Yandi.
Hingga kini, konsep metode pembelajaran alternatif ini terus dikembangkan dengan melakukan uji coba di berbagai sekolah di Jakarta dan Depok. Mereka juga menyebarluaskan pengembangan metode ini melalui situs internet ECU di http://www.educareunit.com.
ECU berharap metode pembelajaran ini nantinya dapat dikembangkan secara luas di sekolah-sekolah dasar. ”Kami hanya membantu para guru untuk membuat desain pembelajaran menggunakan model arsitektur,” kata Didi.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/23/02131138/merancang.pola.pikir.anak-anak
Holcim Awards 2008 – Media Gathering
Pesan utama yang ingin disampaikan oleh Education Care Unit melalui proyek yang telah memperoleh salah satu penghargaan Holcim Awards adalah mengenai pentingnya ‘constructing mind’ dalam rangka mencapai pembangunan berkelanjutan, dan bukan semata-mata ‘physical construction’.
Demikian inti yang disampaikan oleh Yandi Andri Yatmo dalam presentasinya di acara Media Gathering di Mario’s Place, Kamis 6 Desember 2008. Education Care Unit menampilkan penjelasan tentang proyeknya yang merupakan satu-satunya entry dari Indonesia yang berhasil memperoleh penghargaan, dari total 299 entry dari Indonesia dan 4.774 entry se-Asia Pasifik.
Dalam kesempatan itu pula Alex Buechi, Sustainable Construction Manager dari PT Holcim Indonesia menjelaskan tentang visi dan misi yang diusung Holcim Foundation dalam menuju pembangunan berkelanjutan. Satu hal yang menarik adalah bahwa Alex Buechi menjelaskan tentang berbagai stakeholder yang terlibat dalam mencapai pembangunan berkelanjutan, mulai dari arsitek, planner, investor, social scientist dan sebagainya. Yandi Andri Yatmo menegaskan bahwa Proyek Education Care Unit telah menunjukkan pentingnya satu kelompok stakeholder lagi, yaitu anak-anak sebagai generasi penerus masa depan lingkungan kita; “architects of the future”.
Memetakan pemikiran, memetakan pembangunan
Kompas, Kamis, 4 Desember 2008 | 15:24 WIB
Memerhatikan anak sekolah dasar membuat konstruksi pembangunan berkelanjutan untuk perkotaan dari berbagai barang bekas di sekitarnya, seperti kertas dan karton pembungkus makanan merupakan cikal bakal terbentuknya realisasi penataan kota di masa mendatang. Tentunya, seperti dijelaskan Yandi Andri Atmo kepada pers, Kamis (4/12), rambu-rambu seperti pelestarian lingkungan hingga pemanfaatan energi tetap menjadi pegangan.
Inilah salah satu pemaparan tim Education Care Unit (ECU) dari Universitas Indonesia yang memenangi Next Generation Encouragement Prizes 2008 pada ajang Holcim Awards Asia Pacific beberapa waktu lalu. “Kami melakukan pemetaan pemikiran sebagai awal konstruksi pembangunan berkelanjutan,” terang Yandi.
Maka, jangan harap jika kerja sama tim ECU ini sama sekali tidak punya hubungan langsung dengan pembangunan konstruksi secara fisik. Judulnya saja adalah Membangun Kesadaran mengenai Pembangunan Berkelanjutan pada Anak-anak. “Tetapi, apa yang ditampilkan anak-anak sekolah dasar tersebut mesti mempunyai keterkaitan satu sama lain,” imbuh Yandi.
Dengan konsep seperti inilah, tim berhasil menyisihkan 4.774 pendaftar kompetisi konstruksi berkelanjutan tersebut. Dari jumlah itu, seperti ditulis Kompas.com, 299 di antaranya adalah pendaftar dari Indonesia.

Yandi Andri Atmo salah satu anggota tim pemenang Holcim Awards 2008 menjelaskan soal konstruksi berkelanjutan. Anak-anak adalah penentu masa depan arsitektur perkotaan. Maka, saat ini menjadi penting untuk memetakan pemikiran anak-anak tentang konstruksi berkelanjutan tersebut.
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/04/15245064/memetakan.pemikiran.memetakan.pembangunan
Pameran Hasil Workshop di Ketapang Fair (1)
Pameran di Ketapang Fair, Sabtu 1 November 2008, merupakan lanjutan dari seminar tentang pembelajaran lingkungan oleh Yandi Andri Yatmo dari Education Care Unit yang diikuti oleh para guru Sekolah Kristen Ketapang pada bulan Agustus yang lalu. Setelah seminar tersebut, para guru kemudian menerapkan metoda pembelajaran lingkungan melalui kegiatan kreatif di kelas masing-masing. Hasil dari workshop tersebut dipamerkan dalam Ketapang Fair yang diselenggarakan serempak di tiga Sekolah Ketapang.
Dalam pameran di Sekolah Ketapang 1 ditampilkan hasil penerapan metode pembelajaran lingkungan dalam berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari jenjang Kelompok Bermain dan TK yang berupa pemanfaatan barang bekas untuk membuat beraneka barang, jenjang SD yang membuat model Dream Island dengan kelengkapannya yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, hingga jenjang SMA yang mencoba mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan energi listrik dengan menggunakan energi alternatif.
Dalam dialog Education Care Unit dengan para siswa yang membuat hasil karya tersebut, para siswa memberikan penjelasan tentang apa yang mereka kerjakan dalam kegiatan tersebut. Mereka juga mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut sangat menyenangkan.
Workshop ini merupakan upaya yang sangat baik dari para guru untuk menerapkan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Education Care Unit dan mengintegrasikannya dalam kegiatan belajar sehari-hari. Education Care Unit berharap upaya ini juga dapat dilakukan di sekolah-sekolah lain.
Workshop AFair UI 2008
Kali ini ECU berpartisipasi dalam event Architecture Fair UI 2008 yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Arsitektur UI, menyelenggarakan workshop ‘Kota Tanpa Banjir’ untuk para siswa SMP dan SMA. Workshop diselenggarakan pada tanggal 17 Mei 2008 di tepi danau UI. Dalam workshop ini para peserta diberikan tantangan untuk merancang sebuah kota yang dapat bebas dari banjir. Peserta harus mendiskusikan berbagai gagasan pemecahan masalah lingkungan yang seringkali ditemui sehari-hari dan menuangkan gagasan tersebut dalam model rancangan sebuah kota secara kreatif. Workshop dilanjutkan dengan presentasi hasil karya dari setiap kelompok, sehingga setiap peserta dapat bertukar pikiran mengenai gagasan untuk sebuah kota agar terbebas dari banjir.
Workshop di SDN Srengseng Sawah 07
Memahami lingkungan adalah memahami tentang keterkaitan; bahwa seluruh unsur dalam lingkungan saling tergantung dan saling berhubungan. Demikian pengetahuan yang berusaha kami sampaikan dalam workshop pendidikan lingkungan di SD Negeri Srengseng Sawah 07. Dengan memahami keterkaitan dalam lingkungan, maka kita akan menjadi lebih bijaksana dalam melakukan intervensi terhadap lingkungan kita. Mengetahui apa-apa saja yang mutlak diperlukan, yang mutlak dipertahankan serta bagaimana menjaga keseimbangan dalam lingkungan.
Workshop di SD Negeri Tanjung Barat 01
Belajar tentang lingkungan ternyata dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Hal ini kami lakukan di SD Negeri Tanjung Barat 01 dalam workshop bertema ‘Dream Island’. Para siswa kami ajak untuk menjadi planner, merencanakan sebuah pulau yang ‘self-sufficient’. Tantangannya adalah bagaimana membuat suatu lingkungan di mana seluruh kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Lewat kegiatan ini anak-anak belajar tentang kebutuhan dasar manusia, sumber daya alam dan sumber energi alternatif. Semua ini dipelajari lewat kegiatan kreatif dalam kelompok.
Seminar/Workshop di Sekolah Ketapang
Sebagai salah satu acara dalam kegiatan ‘Gerakan Ramah Lingkungan’ di Sekolah Kristen Ketapang, Education Care Unit memberikan seminar dan workshop tentang pendidikan lingkungan untuk pada hari Sabtu, 16 Agustus 2008. Seminar diikuti lebih dari 200 orang guru dari jenjang TK sampai SMA. Pada sesi pertama Yandi Andri Yatmo sebagai pembicara utama memberikan penjelasan tentang prinsip-prinsip mengembangkan metode pembelajaran lingkungan yang mengintegrasikan berbagai isu lingkungan melalui kegiatan kreatif dan menyenangkan. Pada sesi kedua, para guru mendapat tantangan untuk mendiskusikan bagaimana berbagai isu lingkungan dapat diintegrasikan dengan setiap mata pelajaran. Tindak lanjut dari seminar ini adalah proyek pendidikan lingkungan yang akan dipraktekkan di kelas masing-masing.
ECU dalam Kid’s Magz
Kegiatan kreatif dan menyenangkan bagi anak harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Namun seringkali tidak mudah bagi guru dan orangtua untuk menemukan ide kegiatan kreatif yang dapat dilakukan bersama anak. Education Care Unit bersama Kid’s Magz mencoba memberikan ide-ide yang dapat dimanfaatkan guru dan orangtua untuk kegiatan anak-anak.
Let city children have their say
Sat, 10/20/2007 4:03 PM | Opinion
Paramita Atmodiwirjo and Yandi Andri Yatmo, Jakarta
Children are city dwellers, just like adults. They have the right to live a meaningful life within urban environments.
The Child Friendly Cities (Kota Layak Anak) project that has been initiated in several Indonesian cities is an effort by the government to begin to acknowledge the rights of children in cities. Following a pilot project in five cities in 2006, the State Ministry for the Women’s Empowerment is expanding the program to another 10 cities.
A range of different initiatives may be developed to promote children’s rights in cities and give them the opportunity to live in a safe and healthy environment. One may imagine a child-friendly city, where many services and facilities for all children are available, including attention and protection for marginalized and at-risk groups of children.
A child-friendly city is a place where all children have easy access to housing, health and education. It is also the place where children can happily enjoy green and unpolluted playgrounds and a safe walk to and from school.
However, the concept of Child Friendly Cities requires much more than just the physical development of the urban environment. An important aspect in this concept is the need to promote children as active agents in their environment. This implies the active involvement of children in deciding about what happen to places where they live. This is also clearly stated in the definition of child-friendly cities, which should fulfill the rights of children to “influence decisions about their city” and “express their opinion on the city they want”.
Giving opportunities to children to have a say about their life is quite a challenge in our culture. We have been culturally educated for so long that “children are to be seen and not heard”. Thus most decisions in our society are made by the adults. Within families, schools and communities, we are used to the situation where children are only passive participants, merely following the programs or activities planned by adults.
The spirit of child-friendly cities in giving children a say also suggests how our society should change its attitudes toward children. We should begin to realize that our children possess potentials that should not be ignored. And they have the ability to express their ideas and opinions on matters that we normally consider as adult business.
A number of projects in many countries have proven the successful involvement of children in making decisions about various aspects of urban life. In London, for example, a commission worked on a project involving young Londoners in the strategy development process of the Great London Authority. A forum called Munchner Kinder and Jugendforum was established in Munich to allow children and teenagers to have a say in the planning process of their city.
There are even more attempts to involve children at more micro levels. For example, children might be asked to give opinions about public transportation, to design their own school or to participate in the revitalization of a neighborhood park.
The involvement of children in making decisions about their cities brings together a range of educational values. It helps empower the children to become active citizens. It also enhances their sense of belonging to their environment. If our cities currently have so many problems, we must try our best to educate the next generation who will eventually lead our cities.
For some time, we have organized a series of workshops for primary schoolchildren. We asked the children to imagine the future of the city where they now live, and together we built a 3D model based on their ideas.
We found that this exercise is a powerful vehicle to involve children in the planning process and to give them some freedom to express their opinion. It is a way to develop their imagination and creativity about their environment, while at the same time teaching responsibility, awareness and sensitivity to what happens in their surroundings. It also provides opportunities for the children to learn about collaboration, and the importance of working together to make our environment better.
The involvement of children in the process of planning, developing and managing our cities should be at the heart of all efforts to realize child-friendly cities. The provision of physical facilities and services may have more direct effects in fulfilling the children’s short-term basic needs, but promoting their active involvement will be a more valuable investment for the future of our cities.
So, have we already asked the children what they want? Perhaps it is a question that we all need to address before embarking into any development programs for our urban children.
The writers, lecturers of architecture at the University of Indonesia, develop environmental education programs for primary schoolchildren with the Education Care Unit. They can be contacted at mitayandi@gmail.com
Society needs to know more about environment
The Jakarta Post, 13 December 2007
Opinion and Editorial
Yandi Andri Yatmo and Paramita Atmodiwirjo
Environmental education is a key issue in responding to climate change. There have been countless efforts to spread the awareness of climate change into society. Information is everywhere about global warming and its impacts on our life. However, we cannot simply expect that after knowing the facts on global warming, everybody would voluntarily join environment-friendly attitudes in their everyday life. The question is: Do people really know what they need to know to respond to current environmental issues?
There are two types of knowledge relating to climate change and its relationship to our life. The first type is the knowledge delivered through massive spread of information on the facts of climate change. This is the knowledge we most often find in the media everyday. It tells people on the factual status of our earth, the increasing temperature, the melting of snow and the rising of sea levels, as well as the worrying situation of our forest, water, and wildlife. These are all the facts that are primarily empirical, based on quantitative findings to illustrate the current situation of our environment.
On the other hand, there is another type of knowledge informed to our society as a plea to lead more environment-friendly way of life. Such information usually appears as a series of suggestion to reduce
electricity use, to cycle or walk to work, to reduce the use of plastic, to plant trees, to avoid littering and to manage garbage. Some suggestions are even very extreme, persuading people to turn off the lights in the evening or to completely avoid plastic stuffs and wooden furniture.
These two types of knowledge represent two different aspects of information related to environment. The first type primarily intends to inform the facts, while the second encourage people to act. The first may inform the facts that happen somewhere else — in the arctic, in another country, in the middle of the jungle. The second type suggests some practical things for everyday life. Both types of information have been used for the sake of educating people.
Nevertheless, an important thing to consider in environmental education is how these two types of knowledge are related to one another. It is very important to ensure that people really understand to what extent their acts of planting trees could be related to reducing carbon emission.
This becomes particularly important when environmental education is implemented in basic education levels. It is mandatory that the knowledge on the environment is delivered correctly to our future generation.
So far there are two choices. We may tell them numerical facts of global warming and its impact which currently occur somewhere else, or we may teach them some practical things that they could apply immediately in their own home, school or neighborhood.
Some of the information, especially those related to practical things, is not necessarily new, since they can be found in most primary and secondary school textbooks. Most pupils have known the popular jargon that taught them not to litter (Buanglah sampah pada tempatnya). Textbooks mention a lot about recycling, the difference between organic and inorganic garbage, and the importance of using electricity wisely. Even primary school first-graders have learned about the criteria of a good home environment, which should have enough trees, ventilation, window, rubbish dump and water drainage.
Unfortunately, most often these aspects of environment are taught partially. There were no attempts to encourage the children to think about the connections among different environmental aspects.
Recently we had an opportunity to deliver an environmental education program to primary school children. During one of the sessions we encouraged the children to examine what happened with the rubbish in their school. After they identified the types of garbage produced in their school everyday, we asked them to explain what to do with the garbage. An answer easily came out: “Recycle them”. However, they had no idea when we inquired further what they meant with recycle and how they actually could do it. It illustrates clearly that these children were aware of the term “recycle” without really knowing what it was.
Similarly, most of them did not have the competence in explaining the relationship between “littering” and “flood”, although they knew by heart the phrase “littering causes flood”. The lack of understanding in such simple concept really worried us.
Eventually there would be similar lack of understanding when dealing with more complicated issues, in relating global warming facts with our everyday actions. Children may enjoy joining the acts of planting
trees, but if no further inquiry is taken, they would not understand the important roles of trees to our environment.
We believe that understanding environmental issues and responding to them requires certain level of abilities to think critically. Such critical thinking is necessary to understand the ideas of connections among environmental issues.
After all, environment is about connecting — cause and effects, intervention and impacts, relationship among species, places and matters. There is no point instructing our children to do certain acts, if we do not encourage them to explore the connections. We make a real big mistake if we introduce environmental knowledge to our children simply by pouring out facts, jargons and instructions.
In fact, promoting critical thinking on environmental issues should become the heart of environmental education.
The writers are lecturers of architecture at the University of Indonesia. They actively develop environmental education programs for primary school children with Education Care Unit. They can be contacted at mitayandi@gmail.com.


























































