Kompas, Kamis, 4 Desember 2008 | 15:24 WIB
Memerhatikan anak sekolah dasar membuat konstruksi pembangunan berkelanjutan untuk perkotaan dari berbagai barang bekas di sekitarnya, seperti kertas dan karton pembungkus makanan merupakan cikal bakal terbentuknya realisasi penataan kota di masa mendatang. Tentunya, seperti dijelaskan Yandi Andri Atmo kepada pers, Kamis (4/12), rambu-rambu seperti pelestarian lingkungan hingga pemanfaatan energi tetap menjadi pegangan.
Inilah salah satu pemaparan tim Education Care Unit (ECU) dari Universitas Indonesia yang memenangi Next Generation Encouragement Prizes 2008 pada ajang Holcim Awards Asia Pacific beberapa waktu lalu. “Kami melakukan pemetaan pemikiran sebagai awal konstruksi pembangunan berkelanjutan,” terang Yandi.
Maka, jangan harap jika kerja sama tim ECU ini sama sekali tidak punya hubungan langsung dengan pembangunan konstruksi secara fisik. Judulnya saja adalah Membangun Kesadaran mengenai Pembangunan Berkelanjutan pada Anak-anak. “Tetapi, apa yang ditampilkan anak-anak sekolah dasar tersebut mesti mempunyai keterkaitan satu sama lain,” imbuh Yandi.
Dengan konsep seperti inilah, tim berhasil menyisihkan 4.774 pendaftar kompetisi konstruksi berkelanjutan tersebut. Dari jumlah itu, seperti ditulis Kompas.com, 299 di antaranya adalah pendaftar dari Indonesia.

Yandi Andri Atmo salah satu anggota tim pemenang Holcim Awards 2008 menjelaskan soal konstruksi berkelanjutan. Anak-anak adalah penentu masa depan arsitektur perkotaan. Maka, saat ini menjadi penting untuk memetakan pemikiran anak-anak tentang konstruksi berkelanjutan tersebut.
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/04/15245064/memetakan.pemikiran.memetakan.pembangunan