Kompas, 23 Desember 2008
Karya seorang arsitek sering diidentikkan dengan kegiatan merancang sebuah fisik bangunan. Arsitektur adalah tujuan. Namun, yang dikerjakan sekelompok arsitek muda Indonesia yang tergabung dalam Education Care Unit ini bukan merancang fisik bangunan. Mereka merancang pola pikir anak-anak. Arsitektur hanya menjadi alat.
Karena keunikan itu, dua arsitek muda yang mewakili Education Care Unit (ECU), Didi Pramujadi (32) dan Myrza Yuliansyah (27), memenangi Holcim Awards for Sustainable Construction wilayah Asia Pasifik untuk kategori Next Generation Encouragement Prize 2008.
Karya mereka yang berjudul Constructing Sustainability Awareness for Children (Mengonstruksi Kepedulian Berkelanjutan untuk Anak-anak) tersebut mengalahkan ribuan judul karya yang diusulkan ke penyelenggara Holcim Awards, yakni Holcim Foundation. Holcim adalah produsen semen dan beton setengah jadi terkemuka di dunia.
Piala dan hadiah uang diserahkan kepada kedua arsitek tersebut dalam acara Anugerah Holcim Awards di Habitat Center New Delhi, India, Kamis, 27 November 2008.
Piala disampaikan oleh salah satu anggota dewan juri, Hansjurg Leibundgut, dari Swiss, kepada Didi dan Myrza. Para juri yang berjumlah delapan orang itu diketuai oleh Ashok Lall, arsitek dari India. Salah satu juri berasal dari Indonesia, yakni Prof Dr Gunawan Tjahjono dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Karya mereka ini unik karena bukan berbentuk bangunan arsitektur seperti juara-juara lainnya. ECU mengembangkan semacam metode pembelajaran menggunakan model arsitektur.
Menurut penilaian juri, ECU dinilai membuat anak-anak menjadi pemangku kepentingan masa depan untuk pengembangan lingkungan berkelanjutan. Dengan menciptakan kreativitas di kelas melalui sebuah model ”kota impian”, siswa belajar bagaimana mengelola lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
”Dengan model lingkungan, mereka mengubah cara berpikir, sikap, sampai nilai-nilai anak- anak terhadap lingkungan. Kalau dari kecil sudah dapat ditanamkan, bisa berkelanjutan sampai mereka dewasa,” ujar Gunawan Tjahjono mengomentari kemenangan tersebut.
Motor
ECU ini dimotori oleh dosen di Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia, yaitu Yandi Andri Yatmo PhD (37) dan Paramita Atmodiwirjo PhD (36). Ide ini muncul ketika mereka pulang dari pendidikan di Inggris tahun 2006 dan melihat pendidikan di Indonesia yang memprihatinkan.
Anak-anak sekolah umumnya tidak kreatif karena sistem pembelajaran yang cenderung bersifat dari atas ke bawah, yaitu sangat bergantung pada otoritas guru.
”Anak-anak di sini umumnya takut salah. Padahal, untuk mengembangkan kreativitas, anak-anak harus diberi kebebasan mengemukakan pendapat dan tidak takut salah,” ujar Yandi.
Pengalaman masa kecil Yandi di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, juga memengaruhinya. Saat itu ia mudah sekali berinteraksi dengan alam sekitar yang masih hijau. Hal yang susah didapatkan oleh anak-anak sekolah di kota-kota besar. ”Seharusnya sekolah dan lingkungan sekitar bisa menjadi tempat belajar,” ujar Yandi.
Didi menambahkan, pendidikan di sekolah dasar sering tidak tuntas menyelesaikan masalah sehari-hari. ”Sebagai contoh, kalau anak SD ditanya bolehkah buang sampah ke sungai? Pasti di jawab tidak karena menyebabkan banjir. Namun, kalau ditanya lebih kritis, bagaimana sampah menyebabkan banjir, mereka tidak bisa menjawab,” katanya.
Jadi, metode pembelajaran yang dikembangkan ECU adalah membuat paradigma baru pendidikan dengan mengembangkan kreativitas, kekritisan, dan berlanjut. Dengan latar belakang keahlian di bidang arsitektur, Yandi dan kawan-kawan lainnya sejak tahun 2006 mulai memikirkan metode pembelajaran menggunakan model arsitektur. Namun, model arsitektur itu hanya alat bantu, yang lebih penting adalah diskusi proses pembuatannya dan merefleksikan hasil pembuatan model tersebut. Beberapa bentuk yang dibuat itu adalah model kota impian, lingkungan perkotaan, lingkungan sekolah, dan pulau impian.
”Dengan demikian, arsitektur tidak menjadi menara gading, tetapi bisa membumi,” kata Yandi.
Metode pendidikan berbasis problem sehari-hari itu selanjutnya diujicobakan di sejumlah sekolah dasar di Depok dan Jakarta. Sekolah-sekolah itu di antaranya SDN Mekarjaya 10 Depok, SDN Pondok Cina 1-4 Depok, SDN Tanjung Barat 1 Jakarta, SDN Srengseng Sawah 01 Pagi Jakarta, SMP Al-Azhar Pejaten Jakarta, dan SDN 03 Guntur Jakarta (lihat: Merangsang Kreativitas dengan Arsitektur).
Di sekolah-sekolah itu, mereka membuat lokakarya kreativitas dan lingkungan. Dengan program ini, para siswa diharapkan dapat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan melalui kreativitas mereka. ECU percaya pendidikan seharusnya mencakup kemampuan berkolaborasi, mengekspresikan kreativitas, kritis, dan mampu berpikir reflektif. Pendidikan untuk keberkelanjutan ini bisa dikembangkan untuk menciptakan generasi mendatang dengan menciptakan sensitivitas dan kepedulian terhadap lingkungan.
”Anak-anak memang paling efektif untuk menanamkan konsep-konsep dasar pengelolaan lingkungan ini. Jika konsep ini sudah melekat di pikiran anak-anak, ketika dewasa prosesnya akan lebih mudah lagi.” kata Yandi.
Hingga kini, konsep metode pembelajaran alternatif ini terus dikembangkan dengan melakukan uji coba di berbagai sekolah di Jakarta dan Depok. Mereka juga menyebarluaskan pengembangan metode ini melalui situs internet ECU di http://www.educareunit.com.
ECU berharap metode pembelajaran ini nantinya dapat dikembangkan secara luas di sekolah-sekolah dasar. ”Kami hanya membantu para guru untuk membuat desain pembelajaran menggunakan model arsitektur,” kata Didi.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/23/02131138/merancang.pola.pikir.anak-anak